//
you're reading...
Academic Manuscript (popular and non popular)

Hubungan Antara EVA (Economic Value Added) dan MVA (Market Value Added) Terhadap kinerja dan Produktivitas Perusahaan

Hubungan Antara EVA (Economic Value Added) dan MVA (Market Value Added) Terhadap kinerja dan Produktivitas Perusahaan

Berto Usman

001/IV-3/20103

Managing Operation and Innovation

PENDAHULUAN

Abad 21 merupakan sebuah masa keemasan setelah bergulirnya revolusi industri di perancis, Penemuan-penemuan hebat telah berkembang sebagai pondasi bagi penemuan dan perkembangan industri manufaktur maupun non manufaktur di tahun-tahun berikutnya. Perkembangan industri manufaktur ini memicu perkembangan sektor industri jasa  dan perdagangan, perkembangan industri yang pesat membawa implikasi pada persaingan antar perusahaan dalam industri. Perusahaan dituntut untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan kinerjanya agar tetap bertahan dalam masa krisis maupun persaingan yang semakin ketat. Oleh karena itu, untuk tetap eksis dalam percaturan dunia bisnis sekarang ini, perusahaan harus memiliki sumber daya manusia yang handal dan terampil untuk menyempurnakan strategi bisnis mereka agar dapat berkompetisi dengan baik.

Perusahaan harus dapat meminimalkan kesalahan baik secara konseptual maupun teknikal, Karena kesalahan dalam menentukan tujuan berakibat pada kesalahan strategi yang diambil. Untuk itu diperlukannya penetapan tujuan yang benar akan mempengaruhi pada proses pencapaian tujuan perusahaan nantinya. Oleh karena itu manajemen keuangan sangat diperlukan, berkaitan dengan pemeliharaan dan penciptaan kekayaan atau nilai ekonomi.

Setiap fungsi manajemen  dalam perusahaan di tuntut untuk dapat menciptakan nilai bagi pelanggan dan juga  mencapai suatu nilai bagi perusahaan itu sendiri. Bila suatu Perusahaan mengambil langkah investasi dengan tepat, maka posisi daya saingnya akan meningkat. Hal ini akan berpengaruh terhadap aliran  kas sekarang dan dimasa yang akan datang akan semakin membaik, akibatnya laba yang ditahan (Sumber dana internal) akan semakin besar, selain itu nilai sekuritas perusahaan ini akan semakin baik sehingga sumber dana eksternalnya juga semakin besar. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar sebagai berikut :

Gambar 1. Siklus  nilai bagi sebuah perusahaan, Sumber: (Bondan Sri Sarjendra: 2007).

Nilai bagi sebuah perusahaan dapat di lihat dari sejauh apa perusahaan dapat menghasilkan produk dan menyampaikan nilai dari produk yang dihasilkan ke pelanggan. Nilai tersebut berupa benefit yang di kurangkan dengan pengorbanan yang dilakukan oleh pelanggan. Untuk  mengukur nilai yang didapat oleh perusahaan, maka perlu dilakukan pengukuran kinerja keuangan dengan metode Economic Value Added (EVA) yang relevan dalam mengukur kinerja yang berdasarkan pada nilai (value). Karena metode Economic Value Added (EVA) adalah ukuran nilai tambah ekonomis yang dihasilkan oleh perusahaan sebagai akibat dari aktivitas atau strategi manajemen. Dengan pendekatan metode Economic Value Added (EVA) yang digunakan sebagai sistem pengukuran kinerja keuangan yang mempertimbangkan aspek – aspek yang terkait secara lebih mendalam. Pengukuran tersebut dapat dijadikan dasar bagi manajemen perusahaan dalam pengelolaan modalnya, rencana pembiayaan, wahana komunikasi dengan pemegang saham serta dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan insentif bagi karyawan. Dengan Economic Value Added (EVA) sebagai alat pengukur kinerja perusahaan, manajemen keuangan dituntut untuk meningkatkan nilai perusahaan dengan memaksimumkan modal.

KONSEP EVA (Economic Value Added)

Pada dasarnya, pengukuran kinerja keuangan perusahaan bisa dikelompokkan dalam tiga kategori (Helfert, 2000), yaitu:  Earnings Measures, Cash Flow Measures, dan Value Measures. Value Measures mendasarkan kinerja pada nilai (value based management). Termasuk dalam kategori ini adalah economic value added (EVA), market value added (MVA), cash value added (CVA) dan shareholder value (SHV). Metode EVA pertama kali dikembangkan oleh Stewart & Stern seorang analis keuangan dari perusahaan Stern Stewart & Co pada tahun 1993. Di Indonesia metode tersebut dikenal dengan metode NITAMI (Nilai Tambah Ekonomi). EVA/NITAMI adalah metode manajemen keuangan untuk mengukur laba ekonomi dalam suatu perusahaan yang menyatakan bahwa kesejahteraan hanya dapat tercipta manakala perusahaan mampu memenuhi semua biaya operasi dan biaya modal (Tunggal 2001). EVA merupakan tujuan perusahaan untuk meningkatkan nilai atau value added dari modal yang telah ditanamkan pemegang saham dalam operasi perusahaan. Oleh karenanya EVA merupakan selisih laba operasi setelah pajak (Net Operating Profit After Tax atau NOPAT) dengan biaya modal (Cost of Capital).

EVA merupakan suatu ukuran kinerja perusahaan yang dapat berdiri sendiri sendiri tanpa memerlukan ukuran lain baik berupa perbandingan dengan menggunakan perusahaan sejenis atau menganalisis kecenderungan (trend). Hasil perhitungan EVA mendorong pengalokasian dana perusahaan untuk investasi dengan biaya modal yang rendah. Sedangkan menurut Utama (1997:10), manfaat EVA adalah: (1) EVA dapat digunakan sebagai penilaian kinerja keuangan perusahaan karena penilaian kinerja tersebut difokuskan pada penciptaan nilai (value creation) (2) EVA akan menyebabkan perusahaan lebih memperhatikan kebijakan struktur modal .

EVA dapat digunakan untuk mengidentifikasikan kegiatan atau proyek yang memberikan pengembalian lebih tinggi daripada biaya-biaya modalnya. Selain manfaat yang telah dijelaskan diatas, EVA merupakan pengukuran yang sangat penting karena dapat digunakan sebagai signal terjadinya Financial Distress pada suatu perusahaan (Salmi & Virtanen, 2001). Jika suatu perusahaan tidak dapat memperoleh profit di atas required of return, maka EVA akan menjadi negatif, dan hal ini merupakan warning akan terjadinya Financial Distress bagi perusahaan tersebut.

Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk mengukur EVA, tergantung dari struktur modal dari perusahaan (Velez, 2000). Apabila dalam struktur modalnya perusahaan hanya menggunakan modal sendiri, secara matematis EVA dapat ditentukan sebagai berikut :

EVA = NOPAT – (ie x E)

di mana:

NOPAT           = Net Operating Profit After Taxes

ie                     = Opportunity Cost Of Equity

E                      = Total Equity.

 

Namun, manakala dalam struktur perusahaan terdiri dari hutang dan modal sendiri, secara matematis EVA dapat dirumuskan sebagai berikut:

EVA = NOPAT – (WACC x TA)

di mana:

NOPAT           = Net Operating Profit After Taxes

WACC            = Weighted Average Cost of Capital

TA                   = Total Asset (Total Modal)

Dari perhitungan akan diperoleh kesimpulan dengan interprestasi hasil sebagai berikut:

1        Jika EVA  > 0 hal ini menunjukkan terjadi nilai tambah ekonomis bagi

perusahaan.

2        Jika EVA   < 0  hal ini menunjukkan tidak terjadi nilai tambah ekonomis bagi

perusahaan.

3        Jika EVA   = 0  hal ini menunjukkan posisi impas karena laba telah digunakan

untuk membayar kewajiban kepada penyandang dana baik kreditur maupun pemegang saham.

KONSEP MVA (Market Value Added)

Selain konsep metode perhitungan EVA (Economic Value Added) terdapat konsep lain yang sangat erat kaitannya dengan EVA, yaiktu konsep pengukuran MVA (Market Value Added). Pengukuran MVA menilai dampak tindakan manajer atas kemakmuran pemegang sahamnya sejak perusahaan tersebut berdiri, sementara EVA menilai ketidak-efektifan manajer pada perusahaan tersebut (Brigham & Gapenski, 1999).

Beberapa waktu ini telah diperkenalkan sebuah konsep yang dapat menyatakan besaran yang langsung mengukur penciptaan nilai yaitu Market Value Added (MVA). Konsep ini dikembangkan oleh Stern, Stewart & Co., yang meyakini dan mempopulerkan MVA sebagai satu-satunya alat ukur yang paling pas untuk sukses tidaknya suatu perusahaan dalam menciptakan kekayaan bagi pemilik (Ruky 1999). MVA adalah  market value (total nilai pasar) semua saham dan hutang perusahaan, yang berarti berapa jumlah yang diperoleh investor jika semua investasinya berupa saham dan obligasi dijual ke pasar finansial dikurangi total modal yang diinvestasikan (berupa ekuitas, laba ditahan, hutang lewat pasar modal dan hutang terhadap bank). Jika MVA positif berarti manajer berhasil menciptakan nilai tambah bagi perusahaan sebaliknya jika MVA negatif maka manajer gagal menciptakan nilai tambah bagi perusahaan.

Penelitian O’Byrne dan Stewart menyatakan bahwa MVA dependen terhadap EVA. Hal ini berarti bahwa harga pasar saham mencerminkan seluruh informasi yang tersedia di pasar modal, atau MVA merupakan pencerminan dari EVA, atau harga pasar saham di pasar modal mencerminkan kinerja intern perusahaan. Hal ini menyatakan bahwa semua investor atau para pemegang saham mempunyai informasi yang sama untuk memperoleh keuntungan yang normal (normal return). Terdapat korelasiyang signifikan antara EVA dengan MVA. Ini berarti jika EVA (nilai tambah yang dihasilkan oleh suatu perusahaan dengan cara mengurangkan laba operasi bersih setelah pajak dengan biaya modal yang timbul sebagai akibat investasi yang dilakukan) naik akan diikuti dengan kenaikan MVA (nilai tambah yang berhasil dikapitalisasi dan memperbesar nilai kapital yang digunakan oleh perusahaan).

Penciptaan suatu nilai bagi para pemegang saham sesuai dengan konsep MVA yaitu memaksimumkan kesejahteraan pemegang saham yang dilakukan dengan memaksimumkan selisih antara market value of equity dengan jumlah yang ditanamkan investor ke dalam perusahaan. Selisih tersebut dikenal dengan istilah MVA. MVA dipilih karena konsep ini merupakan ukuran kinerja keuangan secara eksternal, jadi bukan dari nilai pasar perusahaan yang merupakan hasil kali antara jumlah harga saham yang beredar dengan harga pasarnya. Karena nilai pasar perusahaan memiliki kelemahan yaitu untuk perusahaan yang telah go public, nilai pasarnya akan berubah ketika terjadi penjualan saham baru, padahal penambahan pasar dengan cara itu bukanlah merupakan usaha riil perusahaan, sehingga tidak dapat diakui sebagai prestasi kinerja keuangan perusahaan. MVA dapat dihitung dengan formula:

MVA = Market value of equity – Equity capital supplied by shareholders

KESIMPULAN

Tujuan utama perusahaan adalah memaksimumkan kesejahteraan pemegang saham yang dilakukan dengan memaksimumkan MVA. MVA harus menjadi tujuan utama oleh perusahaan yang menitikberatkan pada kemakmuran shareholder dan pengembangan nilai bagi perusahaan.

Berdasarkan MVA dapat dibuat kontrak untuk menentukan besarnya bonus kinerja bagi pengelola. Masalahnya, MVA adalah ukuran kumulatif jangka panjang. Padahal bonus kinerja biasanya perlu dibayar tiap tahun. Sebagai pendekatan bagi penciptaan nilai setiap tahunnya, diperkenalkan konsep Economic Value Added (EVA) atau konsep nilai tambah ekonomis.

MVA dihitung dengan cara mengalikan jumlah saham yang beredar dengan selisih antara harga saham dengan nilai buku ekonomis per lembar saham. Dengan kata lain, MVA adalah selisih absolut antara nilai pasar perusahaan dengan modal yang diinvestasikan (Winarto). MVA positif jika nilai pasar perusahaan lebih besar daripada modal yang diinvestasikan, berarti kekayaan telah diciptakan. Sebaliknya MVA negatif jika nilai pasar perusahaan lebih kecil daripada modal yang diinvestasikan, berarti kekayaan telah dimusnahkan.

DAFTAR REFERENSI

 

Brigham, E.F., Gapenski, L.C., & Daves, P.R., Intermediate Financial  Management, Sixth Edition, The Dryden Press International Edition, New York, 1999.

Bondan Sri Sarjendra, Analisis pengukuran kinerja keuangan dengan pendekatan metode economic value added sebagai dasar pengalokasian biaya  di perusahaan rokok Tani Jaya.

Helfert, Erich A. (2000). Techniques of Financial Analysis: A Guide to Value Creation. (10 Edition). Singapore: McGraw-Hill Book Co.

Ruky, Saiful M., Menilai Penyertaan dalam Perusahaan, PT Gramedia  Pustaka Utama, Jakarta, 1999.

Stewart III, G. Bennet, The Quest for Value International Edtion, New  York, 1991.

Winarto, Janinta. Penilaian Kinerja Keuangan Perusahaan Dengan Menggunakan Metode Market Value Added (MVA).

Advertisements

About bertousman

Many people say that to be different is exclusive, it is in line with what my friend had already said to me "Form is temporary, but Class is permanent". I absolutely agree with this one.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 45,371 hits

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 7 other followers

Calendar

July 2011
M T W T F S S
« Jun   Oct »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Twitter Updates

Archives

Top Clicks

  • None
Danny Machal

Podcast fiction from a writer on the road to being published.

bertousman

Think Big, Dream Big, and Take Big Actions

bayu sindhu raharja's blog

sekedar tulisan ringan, sebagai pelepas gundah dan resah di hati

Belajar Menulis

Ketika Ibu-Ibu Iyik Sok Asik Ngeblog

rifyal dahlawy chalil

Think Big, Dream Big, and Take Big Actions

About Me

Think Big, Dream Big, and Take Big Actions

Belajar Metoda Penelitian

Think Big, Dream Big, and Take Big Actions

Triya Andriyani

Sedikit Bercerita

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: