//
you're reading...
Academic Manuscript (popular and non popular)

Sejarah Analisis Teknikal Candlestick

MENGENAL LEBIH DEKAT ANALISIS TEKNIKAL CANDLESTICK (BATANG LILIN)

Analisis candlestick merupakan satu dari sekian banyak analisis teknikal yang lazim digunakan para investor maupun trader dalam menganalisa saham. Analisis ini pertama kali digunakan di Jepang pada abad ke-17 sebagai alat analisis teknikal dalam perdagangan beras. Dikembangkan oleh Munehisa Honma seorang pedagang beras Jepang legendaris yang lahir pada tahun 1724. Honma adalah orang pertama yang berdagang beras di Sakata, kemudian Homma pergi ke pasar berjangka beras terbesar di Jepang yaitu Dojima Rice Exchange  di Osaka untuk memulai perdagangan berjangka beras. Setelah mendominasi pasar Osaka, Honma kemudian pindah kepasar regional di Edo (Tokyo) yaitu di Kuramae Rice Exchange. Beberapa tahun kemudia Honma menjadi Konsultan bagi pemerintah dan diberi gelar Samurai. Bukunya tentang perdagangan berjangka beras menjadi dasar dari metode candlesticks yang digunakan di Jepang.

Pada periode selanjutnya, pengembangan prinsip-prinsip dalam analisis candlestick banyak didasari oleh pengalaman para investor/trader selama bertahun-tahun. Alat analisis candlestick ini mulai masuk ke berbagai belahan dunia termasuk Amerika pada tahun 1900-an.

Pada awal masuknya candlestick ke Amerika, banyak orang memandang sebelah mata atas alat analisis ini. Pring (2002) seorang penulis analisis teknikal ternamapun pernah berpendapat serupa. Dalam kata pengantar pada bukunya yang berjudul Candlestick Explained yang dipublikasikan pada tahun 2002 oleh McGraw-Hill. Pring menulis:

“i first heard about candlestick in the 1980’s when my publihers, McGraw-Hill,   asked me to review a proposal for a book that they had received. My conclusion was that concept would never sell in the united states and that was not a worth book, but how wrong i was! Today, no charting package is complete without the candlestick option, and it is a technique practiced by a huge proportion of traders.” (Pring, 2002:xi).

Pernyataan Pring di atas memang benar adanya. Hingga saat ini, hampir dalam setiap grafik pergerakan harga saham, Commodity, Forex, Index dan lainnya batang-batang candlestick selalu digunakan. Penggunaan candlestick ini juga seakan merupakan sebuah keharusan dalam berbagai software analisis teknikal yang ada di pasaran baik yang dipasarkan di Indonesia ataupun dibelahan dunia lainnya.

Meskipun Candlesticks telah berkembang diberbagai negara dan diaplikasikan pada beragam pasar yang memiliki sifat yang berbeda, namun prinsip-prinsip analisis candlestick yang digunakan di setiap negara tetap sama, dimana pertanyaan tentang “apa” (price action) yang akan terjadi jauh lebih penting daripada “mengapa” suatu (price action) itu terjadi dengan kata lain, dalam analisis candlesticks seorang analis akan lebih tertarik untuk mengetahui tentang “kemana arah pergerakan harga berikutnya daripada memusingkan apa yang menyebabkan pergerakan itu sendiri (Hendra, 2008).

Konsep ini mirip dengan konsep blackbox dalam forecasting, di mana kita tidak merasa perlu untuk mengetahui apa yang telah mengakibatkan pergerakan dari variabel yang kita amati, namun yang paling penting bagi kita adalah berapa kira-kira nilai variabel tersebut pada periode berikutnya.

Dalam analisis Candlestick kita akan dibawa pada sebuah keyakinan bahwa ”semua informasi dan sentimen di pasar tercermin didalam  pergerakan/pola pergerakan harga” yang diterjemahkan kedalam empat titik penting dari harga, yaitu harga Open, High, Low dan Close, oleh karena itu, dengan mengamati kombinasi posisi dari keempat posisi harga tersebut maka kita akan dapat mengambil kesimpulan/perkiraan tentang kemana arah dan berapa target pergerakan harga berikutnya (Hendra, 2008: Usman, 2010).

Beberapa buku dan analis candlestick bahkan menggambarkan output dari analisis candlestick seperti analisis perperangan antara dua kubu pasukan, yaitu kubu Bullish dan kubu Bearish. Output dari analisis candlestick seperti ini akan menghasilkan analisis seperti: “telah terjadi pertempuran sengit antara pasukan Bearish Versus Bullish, namun kedua pasukan kembali ke barak tanpa membawa hasil” atau “ pasukan Bullish menguasai medan pada setengah pertempuran, namun pada paruh kedua pertempuran pasukan Bearish mampu memukul mundur lawan dan menguasai medan pertempuran” dan sebagainya.

Interpretasi-interpretasi seperti di atas adalah salah satu faktor yang membuat analisis candlestick begitu berbeda dengan analisis teknikal lainnya, karena seorang analis bahkan dapat bercerita tentang apa yang tengah terjadi di pasar dengan hanya menggunakan empat titik harga saja.

Selain itu, menurut Steve dalam Hendra (2008) ada beberapa keunggulan utama dari analisis candlestick: yaitu, analisis candlestick dapat digunakan oleh pemula bahkan analis teknikal veteran sekalipun. Hal ini disebabkan oleh sifat dari analisis candlsestick yang dapat digabungkan dengan hampir semua jenis analisis teknikal. Keberadaanya yang telah berabad lamanya mengakibatkan alat analisis ini  telah dilakukan test dan dikembangkan oleh sekian banyak analis dengan ribuan kali proses trial and error. Penamaan yang sederhana dan mengena atas berbagai formasi menjadikannya mudah dimengerti. Karena sifatnya yang mudah digabung dengan analisis teknikal lainnya, maka candlestick mampu memperkaya khasanah analisis seorang analis. Analisis  candlestick mampu memberikan gambaran psikologis tentang apa yang tengah terjadi di pasar sehingga dengan menggunakan analisis ini kita akan tahu apa yang terjadi di pasar dengan hanya melihat pergerakan harga.

REFERENSI

Hendra,  Syamsir. 2008. Candlestick And Its Application In Indonesian Market.   Jakarta:  Elex media komputindo.

Usman, Berto. 2010. Analisis Akurasi Bearish Versus Bullish Saham PT Bakrie Telecom Tbk Pada Interval Waktu 5 Januari  2009 Sampai 1 Juni 2010 Dengan Menggunakan  Analisis  Candlestick. Perpustakaan UNIB. (Tidak dipublikasikan).

Pring, M, 2002. Candlesticks explained. New York: McGraw-Hill.

Advertisements

About bertousman

Many people say that to be different is exclusive, it is in line with what my friend had already said to me "Form is temporary, but Class is permanent". I absolutely agree with this one.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 45,371 hits

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 7 other followers

Calendar

May 2012
M T W T F S S
« Dec   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Twitter Updates

Archives

Top Clicks

  • None
Danny Machal

Podcast fiction from a writer on the road to being published.

bertousman

Think Big, Dream Big, and Take Big Actions

bayu sindhu raharja's blog

sekedar tulisan ringan, sebagai pelepas gundah dan resah di hati

Belajar Menulis

Ketika Ibu-Ibu Iyik Sok Asik Ngeblog

rifyal dahlawy chalil

Think Big, Dream Big, and Take Big Actions

About Me

Think Big, Dream Big, and Take Big Actions

Belajar Metoda Penelitian

Think Big, Dream Big, and Take Big Actions

Triya Andriyani

Sedikit Bercerita

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: