//
you're reading...
Academic Manuscript (popular and non popular)

Critical Review: Complementarity-Based Hypercompetition in the Software Industry: Theory and Empirical Test, 1990-2002

Complementarity-Based Hypercompetition in The Software Industry: Theory and Empirical Test,1990-2002
Chi-Hyon Lee*, N. Venkatraman, Huseyin Tanrivendi, and Bala Iyer. (2010).
Strategic Management Journal, 31. Pp.1431-1456.
 
Oleh: Berto Usman (11/PEK/324134/15810)

1. Latar Belakang

       Pendeknya daur hidup produk teknologi telah memunculkan sebuah persaingan yang sangat kompetitif diantara para produsen gadget. Fenomena ini terjadi seiring perkembangan ide dan inovasi-inovasi yang selalu berkembang dengan cepat. Hal tersebut memaksa banyak produsen barang komplementer IT untuk dapat mengikuti perkembangan portofolio produk inti. Namun demikian, banyak perusahaan yang tidak dapat bertahan untuk mengikuti proses tersebut. Fenomena ini muncul karena terbatasnya kemampuan perusahaan untuk dapat melakukan pengembangan inovasi yang bersinergi dengan portofolio produk inti. Dengan begitu, tingginya tingkat persaingan diantara barang komplementer dapat menjadi sebuah kekuatan bagi portofolio produk inti dalam meningkatkan kinerja.

       Artikel ini membahas sebuah fenomena yang selama ini tidak kita sadari, tetapi memiliki dampak yang luar biasa bagi setiap pemain dan konsumen yang terlibat di dalam siklus produk berbasis teknologi. disamping membahas fenomena yang menarik, artikel ini juga memberikan gambaran pada kita tentang sejauh apa peran barang-barang komplementer dan seperti apa kontribusinya terhadap kemajuan industri teknologi yang lebih dispesifikan pada kinerja industri Software. Selain menggunakan beberapa teori yang sudah baku, penulis juga melakukan studi longitudinal yang membutuhkan waktu pengamatan cukup lama, sehingga menyisakan peluang bagi pembaca untuk mengkaji kelayakan hasil dari penelitian yang telah dilakukan penulis.

       Masih sedikit riset-riset ilmiah yang mengkaji secara lebih mendalam mengenai keterkaitan antara barang-barang komplementer. Namun demikian, penelitian ini masih menyisakan beberapa celah dimana penulis belum mengelaborasi beberapa item penelitian dengan komprehensif. Oleh sebab itu, tujuan dilakukannya review adalah untuk menganalisa kekurangan yang nantinya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi para peneliti dalam melakukan studi lebih lanjut.

2. Pertanyaan Umum Penelitian

       Isu konseptual yang diangkat dalam penelitian ini adalah mengenai sejauh apa kinerja perusahaan yang memproduksi barang komplementer dari waktu kewaktu. Selanjutnya bagaimana peran industri barang komplementer sebagai pemasok produk yang nantinya akan dibentuk ke dalam portofolio produk inti. Apakah dengan semakin berkembangnya tingkat komplementaritas dari produk-produk tersebut akan berdampak pada kinerja. Lebih lanjut, isu metodis terkait dengan metode penelitian yang digunakan oleh peneliti. Studi yang dilakukan penulis cukup kompleks, dimana hubungan komplementaritas yang terbentuk diantara Independen Service Vendor bersifat dinamis. Permasalahan tersebut juga terkait erat dengan aspek waktu sehingga penggunaan studi longitudinal dapat mengkompilasi level analisis yang cukup beragam baik dari sisi industri, bisnis dan perusahaan. Untuk tujuan penelitian yang lebih spesifik, bisa dilihat dalam pertanyaan penelitian  yang secara implisit dapat diselidiki dari artikel.

       Pertanyaan umum yang dipaparkan oleh penulis secara garis besar berkaitan dengan performance, atau kinerja setiap perusahaan yang memproduksi barang komplementer di Industri Software. Hal yang menjadi permasalahan umum dalam penelitian ini lebih ditekankan pada sisi kinerja dan komplementaritas produk. Pertanyaan yang muncul meliputi, apakah kinerja Independen Service Vendor di dalam industri software akan dapat meningkat, seiring dengan semakin pendeknya daur hidup produk komplementer yang disebabkan karena tingginya tingkat persaingan antar produk? Selain itu, apakah dengan tingginya tingkat komplementaritas akan berpengaruh terhadap kinerja Independen Service Vendor?

3. Konseptualisasi

      Konseptualisasi variabel yang digunakan pada penelitian ini berangkat dari fenomena Hypercompetition yang terjadi diantara produsen barang-barang komplementer dalam industri teknologi. Penulis mengutip pernyataan  Brown & Eisenhardt (1997) dan Schmalensee (2000) dimana motivasi dan pijakan berfikir untuk mengidentifikasi industri teknologi didasari pada tingginya level kompleksitas produk komplementer di industri tersebut. Selain itu, tingginya tingkat inovasi, kecepatan perubahan karakteristik dalam sebuah teknologi dan masih luasnya pangsa pasar akan dapat meningkatkan aktifitas perusahaan dalam menghasilkan profit. Hal tersebut dapat menjadi perhatian utama bagi para produsen, sehingga munculah fenomena yang dinamakan dengan hypercompetition. Oleh sebab itu, penulis menkonseptualisasikan variabel penelitiannya ke dalam sebuah istilah yang mengakomodasi keberadaan produsen barang komplementer di industri teknologi, yaitu dengan terminologi kata Independen Service Vendor (IVS).

       Inovasi yang muncul sangat dipengaruhi oleh tingkat perubahan lingkungan. Hal ini belum secara jelas dipaparkan oleh peneliti. Inovasi yang mengalami pertumbuhan dalam lingkungan yang mendukung terjadinya inovasi dalam suatu lembaga, bukanlah disebabkan oleh inovasi itu sendiri, tetapi bagaimana wawasan dunia mempengaruhi kegiatan inovasi (Togar, 2010). Hal ini menjadi salah satu kelemahan dari artikel, dimana analisis lingkungan internal dan eksternal dari industri teknologi belum dijelaskan dengan baik oleh peneliti. Seharusnya peneliti harus lebih peka terhadap perubahan lingkungan yang terjadi secara temporal. Setelah menjelaskan bagaimana tingkat persaingan sesungguhnya, maka peneliti dapat langsung memfokuskan diri pada fenoma hypercompetition yang terjadi diantara Independen Service Vendor  dalam industri software .

      Penulis mengkonsepkan para produsen barang komplementer sebagai Independen Service Vendor, atau penyedia barang-barang pelengkap yang nantinya dapat digunakan perusahaan besar untuk dirakit ke dalam bentuk portofolio produk inti. Dalam hal ini, setiap barang komplementer seperti piranti lunak Windows media player, Microsoft office, Adobe, akan dibentuk ke dalam suatu format sehingga terciptalah sebuah produk yang dapat dioperasikan menjadi sebuah Komputer. Namun demikian, ada beberapa hal ganjil yang ditunjukan penulis dalam mengkonseptualisasikan variabel penelitiannya. Dari judul yang dipaparkan, terlihat jelas bahwa penulis ingin membahas mengenai persaingan di dalam subindustri Software, tetapi beberapa pendefinisian variabel yang digunakan lebih berputar-putar dengan penjelasan yang lebih diasosiakan pada produk Hardware. Dengan begitu, permasalahan tersebut dapat menimbulkan kebingungan bagi pembaca, apakah Independen Service Vendor disini merupakan penyedia Software ataukan Hardware? Hal ini masih akan dibahas lebih lanjut pada subformat selanjutnya.

     Klasifikasi kriteria software dan hardware tidak bisa disamakan begitu saja. Dari sisi karakteristik, produk software lebih mengarah pada setiap perangkat lunak yang ditujukan untuk menjalankan sistem operasi. Sebaliknya, produk hardware merupakan komplementaritas dari produk software, sehingga setiap komponen yang telah dirakit harus compatible agar portofolio produk inti dapat dioperasikan dengan semestinya. Hal ini seharusnya diperhatikan dengan baik oleh peneliti, karena meskipun produk software dan hardware merupakan produk yang saling terkait dan memiliki fungsi dalam situasi dan kondisi yang sama, tetapi kedua kelompok produk tersebut memiliki karakteristik yang berbeda (Issa, 2009).

4. Hipotesis dan Teori

       Hipotesis yang dibentuk dalam penelitian ini terdiri dari empat  hipotesis utama. Selain itu, Grand theory yang digunakan adalah proposisi yang diadopsi dari teori Schumpetarian dimana destructive creativity memainkan peran utama yang mengakibatkan semakin pendeknya tingkat daur hidup produk dalam industri berbasis teknologi. Selanjutnya, pembentukan hipotesis didasarkan pada teori Schumpetarian yang mengungkapkan bahwa inovasi enterpreneur merupakan generator dalam pembangunan ekonomi. Tersedianya inovator dan teknologi menjadi syarat mutlak terjadinya inovasi. Selain itu, penulis juga menjadikan  The Economic theory of complementarities (TOC) sebagai dasar dalam pembentukan logika penelitian.

         The Economic theory of complementarities (TOC) lebih menekankan pada hubungan matematis diantara sistem variabel-variabel komplementer dan tingkat return yang dihasilkan sebagai akibat dari interaksi antara produk komplementer yang dibentuk kedalam sebuah produk portofolio. Ada beberapa kelemahan dari hipotesis yang diajukan oleh penulis. Penulis berargumen bahwa tingginya tingkat perubahan komplementaritas barang terhadap produk portofolio dapat membatasi manfaat berkesinambungan yang diciptakan oleh Independen Service Vendor. Hipotesis yang disusun berdasarkan argumen tersebut menyisakan sedikit permasalahan dimana hubungan antar ISV belum dipaparkan dengan jelas.

      Masih kaburnya hubungan antara kinerja sesama Independen Service Vendor dapat menimbulkan masalah tersendiri. Seharusnya peneliti mengklasifikasikan karakteristik industri software berdasarkan tiga kriteria klasifikasi industri seperti yang disarankan Besanko et al., (2010). Menurut Besanko et al (2010) klasifikasi industri dapat dipersempit ke dalam tiga kriteria pokok yaitu, kesamaan dari segi karakteristik produk, kegunaan yang sama untuk satu situasi dan kondisi, serta dijual dalam satu lokasi atau area yang sama. Dengan begitu, pengklasifikasian tersebut akan memudahkan penulis untuk membagi Independen Service Vendor kedalam beberapa subkelompok, Sehingga Hal tersebut akan memudahkan penulis dalam melakukan komparasi kinerja produsen produk komplementer yang menjadi fokus penelitian.

       Secara umum hipotesis yang diajukan oleh penulis sudah mengarah kepada pengujian kinerja Independen Service Vendor. Kinerja yang diobservasi dimulai dari kinerja t-1, (t) hingga kinerja ISV pada waktu t+1. Proses pembentukan Keempat hipotesis yang diajukan sudah cukup jelas, dimana penulis telah memasukan teori, penelitian terdahulu dan diperkuat dengan logika penelitian.

5. Operasionalisasi Pengukuran

           Peralihan konsep ke Indikator tidak dijelaskan secara rinci karena penelitian ini tidak membentuk konstruk yang memanifestasikan indikator reflektif. Variabel yang diobservasi bukan merupakan variabel latent  sehingga penulis memutuskan untuk mengukur kinerja perusahaan berdasarkan hitungan matematis yang dapat diukur dengan menggunakan persamaan dan notasi. Mengenai validitas dan reliabilitas tidak disinggung, hal ini tidak menyisakan masalah besar karena sebagian besar diskusi yang dilakukan penulis lebih menjelaskan hasil output statistik secara deskriptif. Meskipun demikian, sebagian besar desain penelitian sudah menjelaskan blueprint mengenai tahapan isu metodis yang diawali pada pendeskripsian variabel, komputasi variabel, model statistik, hasil output statistik deskriptif, pengujian hipotesis, diskusi, keterbatasan, serta kesimpulan dan kontribusi hasil penelitian. Selain itu penulis juga memaparkan variabel kontrol yang bisa digunakan untuk memperkuat bagaimana pengaruh persaingan antar ISV terhadap kinerja dari waktu kewaktu.

        Penelitian ini menggunakan  beberapa konsep yang didasarkan pada teori-teori yang sudah baku. Selanjutnya penulis menetapkan bagaimana keterkaitan antar variabel-variabel yang terlibat dalam penelitian tersebut. Untuk memperkuat hasil pengujian statistik, penulis memasukan beberapa variabel kontrol seperti Size, Age, Jumlah ISV yang melakukan merger atau akuisisi, tingkat pertumbuhan  dan portofolio ISV, tingkat konsentrasi produk portofolio, Tingkat diversifikasi produk portofolio dari sebuah ISV, pengaruh jaringan yang dimiliki dari sebuah produk portofolio, jumlah produk ISV yang dipasarkan, kinerja sebelumnya dari kelompok ISV dan variabel dummy yang bertujuan untuk membedakan kinerja antar tahun. Diantara variabel kontrol yang digunakan, penulis juga memanfaatkan tingkat pertumbuhan perusahaan. Tingkat pertumbuhan ini hanya difokuskan pada bobot revenue yang telah dhasilkan perusahaan. Perhitungan tersebut masih mengandung kelemahan dimana penulis tidak memperhitungkan biaya investasi yang dikeluarkan perusahaan. Untuk mengatasi hal tersebut, maka sebaiknya perusahaan menggunakan model perhitungan pertumbuhan satu sektor seperti yang disarankan Thompson (2008), dimana asumsi dari pertumbuhan biaya internal dengan asumsi biaya komplementaritas diantara barang modal dapat ditelusuri dalam fungsi produksi.

       Pengukuran yang digunakan dalam penelitian ditujukan untuk mengkuantifikasi kinerja ISV dari tahun sebelumnya (t-1) hingga tahun selanjutnya (t+1). Kinerja dari ISV diproksi dengan ukuran pangsa pasar, untuk memperkuat robustness dari hasil penelitian, penulis juga memasukan satu indikator kinerja yang diukur dengan menggunakan Return on Asset (ROA). Kinerja tersebut diukur dengan pengelompokan bobot pangsa pasar dimana pangsa pasar tertinggi dikelompokan ke dalam perusahaan dengan kinerja terbaik, dan sebaliknya. Pengurutan kinerja tersebut terbagi ke dalam lima skala, yaitu 20 persen perusahaan dengan pangsa pasar terendah, 20 persen low-mid, 20 persen mid, 20 persen mid-high dan 20 persen tertinggi. Sedangkan tahap  operasionalisasi indikator-indikator lainnya seperti variabel kontrol sudah didiskusikan dengan baik dan jelas sehingga tidak akan menimbulkan permasalahan dalam pengukuran.

6. Rancangan

       Rancangan penelitian dalam artikel ini dibuat dengan konsep studi longitudinal.  Untuk melihat kinerja Independent Service Vendor  (ISV), peneliti melakukan pembagian kinerja yang dilihat pada t – 1, (t), dan 1 + 1. Hal ini akan memudahkan peneliti untuk melihat bagaimana kondisi persaingan yang terjadi dalam industri teknologi dan bagaimana pengaruhnya terhadap perkembangan kinerja ISV. Selain itu, hakikat dari studi ini dapat dilihat dari tujuan penelitian yang diaplikasi pada rancangan penelititian. Blueprint dari penelitian ini berangkat dari pengumpulan data, sampel penelitian, operasionalisasi variabel Independen, dependen, variabel kontrol, penspesifikasian model penelitian serta menggambarkan hasil statistik deskriptif dan analisis output statistik.

       Sampel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 1.200 ISV dengan 55.000 varian produk. Penggunaan sampel tersebut sudah memenuhi syarat Central Limit Theoreme, dimana semakin banyak jumlah sampel yang digunakan, maka karakteristik sampel tersebut akan semakin mendekati karakteristik populasi. Namun demikian, akan lebih baik jika peneliti membangun sebuah rerangka struktur jenis produk berdasarkan struktur artifaknya. Tentu saja hal ini dapat mempermudah pembaca untuk melihat bagaimana klasifikasi pembedaan barang komplementer di industri teknologi. Selain itu, bagaimana perkembangan inovasi yang dicapai tiap ISV juga akan dapat dengan mudah diamati, sehingga setiap fase dapat menunjukan selama apa suatu keunggulan kompetitif yang dimiliki dapat dipertahankan.

7. Pengumpulan dan Analisis Data

     Data yang digunakan penulis merupakan data yang diperoleh dari Intenational Data Corporation (IDC). Ada beberapa kondisi yang tidak dipaparkan dalam penelitian ini, diantaranya peneliti tidak menyebutkan bagaimana kondisi populasi sesungguhnya. Selain itu penulis juga kurang melakukan penekanan pada pengelompokan produk-produk yang dihasilkan oleh ISV. Tetapi selanjutnya peneliti menyebutkan bahwa Sampel  yang digunakan terdiri dari 1.200 Independen Service Vendor yang berbeda, dengan jumlah produk komplementer yang mencapai 55.000 unit produk.  55.000 unit produk tersebut merupakan barang komplementer yang dipasok ke beberapa perusahaan besar seperti, Microsoft, Apple, Oracle, dll selama kurang lebih 13 tahun.

       Penulis melakukan studi Longitudinal dengan masa pengamatan dari tahun 1990 sampai dengan tahun 2002. Untuk mengukur tingkat hypercompetition, penulis mengurutkan perusahaan berdasarkan perubahan kinerja industri software disetiap tahunnya. Selain itu penulis juga memaparkan hasil pengujian statistik deskriptif untuk mengukur face validity dari instrumen penelitian yang berhubungan dengan tingkat komplementaritas di dalam industri software serta dampaknya terhadap dinamisasi industri. Analisis data yang dilakukan penulis cukup mengena pada poin-poin yang dapat menggambarkan karakteristik perusahaan baik dari sisi ukuran, umur, tingkat  pertumbuhan, konsentrasi produk, kepadatan jumlah produksi, tingkat diversifikasi, efek jaringan perusahaan, jumlah produk yang diproduksi pada tahun t-1, (t), dan t+1, Posisi industri, serta  pengkonfigurasian sumber daya.

        Pengujian hipotesis dan penarikan kesimpulan secara statistik inferensial dipaparkan dengan cukup terperinci. Selain itu penulis juga melakukan uji ketahanan  (Robustness) untuk memperkuat hasil penelitian tersebut. Dengan begitu, meskipun kondisi populasi tidak dijelaskan secara jelas, dapat dikatakan bahwa hasil analisis data dapat mengakomodasi sifat, karakteristik, dan kinerja Independen Service Vendor yang menjadi objek penelitian.

8. Kesimpulan dan Komentar Menyeluruh

   Dari hasil review yang sudah dilakukan secara komprehensif, masih terdapat beberapa hal yang belum diperhitungkan penulis dalam melakukan analisis industri yaitu, mengklasifikasikan industri berdasarkan kriteria industri yang lebih sempit, kriteria tersebut meliputi kesamaan karakteristik dari produk, kegunaan produk untuk situasi dan kondisi yang sama, serta penyebaran atau konsentrasi penjualan produk di area yang sama (Besanko et al., 2010). Klasifikasi industri tersebut merupakan pengelompokan basis industri yang dilakukan secara lebih spesifik yang didasarkan atas pengkategorian kelompok produk. Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa Penulis sedang mencoba untuk mengumpulkan bukti sebanyak-banyaknya bahwa di dalam industri teknologi sedang terjadi sebuah fenomena yang disebut dengan hypercompetition.

      Fenomena hypercompetition sebenarnya tidak hanya terjadi di industri teknologi, tetapi juga dapat terjadi di industri lainnya. Namun demikian, keputusan penulis untuk mengambil industri teknologi sebagai unit analisis patut menerima penghargaan. Disamping itu, penulis masih mengabaikan betapa pentingnya seorang penulis menggambarkan model penelitian. Model ini akan membantu pembaca untuk mengetahui arah dari penelitian. Lebih lanjut penulis juga harus membuat sebuah rerangka yang dapat menggambarkan bagaimana model atau stratifikasi produk yang ada didalam industri teknologi. Hal ini akan memudahkan pembaca untuk mengetahui bagaimana struktur artifak teknologi dan sejauh apa ISV dapat mempertahankan keunggulan kompetitifnya.

       Diantara kekurangan-keurangan yang ada, ada beberapa hal yang dapat meningkatkan value dari penelitian ini yaitu, penelitian tersebut dilakukan secara empiris dimana hasil penelitian memberikan kontribusi berupa solusi rill yang dapat dimanfaatkan baik secara akademikal maupun praktikal. Selain itu, untuk pengembangan pada penelitian selanjutnya, peneliti bisa memasukan Analisis SWOT (Strength, Weaknesses, Opportunitity & Threats) untuk mengevaluasi kinerja dari industri software, serta mengembangkan penggunaan teori  mengenai tingkat pertumbuhan pasar dengan menggunakan model pertumbuhan satu sektor seperti yang disarankan oleh Thompson (2008). Dengan demikian, maka peneliti tidak hanya menguji bagaimana kinerja perusahaan komplementer di dalam industri software, tetapi juga melakukan evaluasi terhadap industri tersebut.

REFERENSI

Barney, J., B. (2007). Gaining and Sustaining Competitive, Advantage. Prentice     Hall.

Besanko, D., Dranove, D., Shanley, M & Schaefer, S. (2010). Economics of Strategy. Jhon Wiley & Sons.

Brown, S., L, & Eisenhardt, K., M. (1997). The Art of Continous Change: Linking Complexity Theory and the Time Paced Evolution in relentlessly Shifting Organizations. Administrative Science Quarterly. pp. 1-34.

Issa, A., A, Rub, A., A., F, Thabata, F., (2009). Using Test Pattern to Estimate Software Development and Quality Management Cost. Software Journal Quality. Pp. 263-281.

Schemalensee, R. (2000). Antitrust Issues in Schumpetarian Industries. American  Economic Review. Pp.192-196.

Thompson, M. (2008). Complementarities and Costly Investment in a Growth Model. Journal of Economic. Pp. 231-240.

Togar, M., S, (2010). Manajemen Rantai Dalam Era Kreatif. Pidato Guru Besar Institut Teknologi Bandung. Pp. 1-94.

Advertisements

About bertousman

Many people say that to be different is exclusive, it is in line with what my friend had already said to me "Form is temporary, but Class is permanent". I absolutely agree with this one.

Discussion

5 thoughts on “Critical Review: Complementarity-Based Hypercompetition in the Software Industry: Theory and Empirical Test, 1990-2002

  1. if you explain it better i would thank you so much.http://www.vinhobrasil.org

    Posted by Elísia | July 13, 2012, 12:01 pm
  2. good article; i will share with the many friends i can. thank you for posting. http://www.centraline.net

    Posted by Daniele | July 15, 2012, 1:25 pm
  3. You are welcome Daniele.

    Elisia, if you can’t understand the language, you can read the original script on jstor or springerlink, but you have to download the full paper first. Thanks

    Posted by bertousman | July 19, 2012, 10:47 am
  4. Hello, very professional high level blog! thank you for sharing. Because of good writing, and I learned a lot, and I am glad to see such a beautiful thing. Sorry for my bad English. ?
    http://www.CoolMobilePhone.net

    Posted by Toussaint Houle | July 19, 2012, 4:41 pm
  5. Hi, glad to see you on this site. I also learned a lot about so many information of mobilephones from your site. Thanks for sharing and keep in touch.

    Posted by bertousman | July 20, 2012, 12:01 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 41,585 hits

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 7 other followers

Calendar

July 2012
M T W T F S S
« Jun   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Twitter Updates

Archives

Top Clicks

  • None
Danny Machal

Podcast fiction from a writer on the road to being published.

bertousman

Think Big, Dream Big, and Take Big Actions

bayu sindhu raharja's blog

sekedar tulisan ringan, sebagai pelepas gundah dan resah di hati

Belajar Menulis

Ketika Ibu-Ibu Iyik Sok Asik Ngeblog

rifyal dahlawy chalil

Think Big, Dream Big, and Take Big Actions

About Me

Think Big, Dream Big, and Take Big Actions

Belajar Metoda Penelitian

Think Big, Dream Big, and Take Big Actions

Triya Andriyani

Sedikit Bercerita

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: